
Malam semua...
saatnya saya lanjutkan kembali kisah hidupku. Maaf ya kawan lama ya kalian nunggu kelanjutan cerita tentang hidupku ?
Setelah kedua kalinya aku pisah ranjang dengan istriku, aku bertekad mau nyari modal untuk biaya cerai. 3 bulan berlalu aku berhasil mengumpulkan 1/2 biaya perceraianku. Namun manusia hanya bisa berencana, ternyata ada saja halangannya. Aku dapat kenalan yang katanya bisa nyalurin kerja di laut, dia nginep di rumahku. Aku jamu dia sebagai tamu special, makan dienak-enakin. Minumnya tiap hari susu, rokok tidak pernah kosong. Dia bilang harus masuk duit sekian buat inilah buat itulah, karena aku termasuk orang yang mudah percaya sama orang makanya aku kasih aja.
Tidak disangka tidak dinyana ternyata dia seorang penipu. Tabunganku habis semua, karena nanggung malu, sama orang sekampung yang sudah mendengar kabar kalo saya mau kerja di laut, maka saya nekat nyari pinjeman lagi ke saudara sebanyak 3,5 juta lalu saya pergi ke Depok ke tempat penyalur kerja. 3 bulan saya hidup di penampungan. Pas selesai ngurus segala keperluan dokumen saya dikirim ke kepulauan Natuna, dari Natuna saya nyebrang pulau lagi ke Sabang Mawang. Disana saya tinggal selama 3 hari karena kapal yang akan saya naiki / tempat saya kerja belum datang.
Begitu kapal datang, saya dan teman-temanpun naik. Di situ semua awak kapal berasal dari Kamboja, kita cuma berempat yang dari Indonesia. Kapal yang saya naiki aslinya sih milik orang Thailand. Ternyata baru seminggu di tengah laut, saya di bawa mendarat ke Thailand. Sehari di Thailand kita bongkar ikan hasil tangkapan kami lalu 4 hari kita nunggu sementara kapal diisi perbekalan. Selama itu pula kita pesta minum minuman keras. Aku benar-benar tidak menghiraukan lagi ajaran agama, yang ada hanya senang-senang dengan teman-teman baru saya.
Setelah selesai mengisi perbekalan, kamipun berlayar lagi mencari ikan tangkapan. Berbulan-bulan kami tidak melihat daratan, namun kami sering bongkar hasil tangkapan di tengah laut, tepatnya di perbatasan Indonesia-Malaysia. Disana kapal kolekting Thailand menunggu untuk mengangkut hasil tangkapan dari kapal-kapal yang sudah mendapat banyak hasil tangkapannya.
Ternyata kapal tempat saya kerja ini kapal pencuri, didalam perjanjiannya kapal boleh beroperasi di Indonesia dengan syarat hasil tangkapannya dijual di Indonesia juga. Tapi kenyataannya jauh berbeda dengan isi perjanjian itu. Kapal beroperasi di Indonesia namun hasil tangkapannya selalu dikirim ke Thailand. Setiap ada patroli dari pihak kepolisian laut kita, mereka jawab belum dapat tangkapan.
Setelah 4 bulan sejak keberangkatan dari Thailand, kita mendarat di Batam untuk setor nama kapal dan perusahaan kapal kita, biar aman dari pihak patroli. Di Batam kami hanya bongkar hasil tangkapan sebanyak 10 ton ikan dan mengisi perbekalan ala kadarnya. Di Batam hanya mendarat 2 hari dan 1 temanku kabur dari kapal karena tidak betah dan takut tertangkap patroli.Setelah selesai bongkar sudah menjadi kebiasaan para pelaut, kami pasti pesta minuman keras, tidak ada lagi ajaran agama yang bisa aku ingat saat itu.
Berbulan-bulan lamanya aku tidak ada kontak dengan keluarga di kampung. Bagaimana kabar orang tua, bagaimana kabar anak istriku pokoknya entahlah saya tidak tau.
2 bulan sejak mendarat di Batam, kami mendarat kembali di Thailand. Disana kami bongkar hasil tangkapan hampir mencapai 100 ton ikan. Kami pesta besar-besaran, minuman keras habis berkrat-krat selama 5 hari kami di darat. Bukan hanya kami kaum pria saja yang pada minum, istri-istri orang Kamboja yang tinggal di Thailand juga pada minum. Pokoknya dari mata terbuka sampe terpejam lagi, yang namanya minumas keras selalu jalan terus....
Setelah selesai mengisi perbekalan, kami kembali melaut. Seminggu kemudian kami bongkar lagi diperbatesan Indonesia-Malaysia. Disitu terjadi insiden kecil antar orang kamboja, mereka berantem orang muslim satu-satunya dari kamboja dikroyok oleh orang-orang budha. Untung nahkoda kapal tau sehingga mereka bisa dilerai dan didamaikan. Aku mengira mereka benar-benar damai, tapi rupanya mereka hanya pura-pura untuk membohongi nahkoda. Selang seminggu berikutnya kami bongkar lagi di perbatasan dan setelah selesai bongkar rupanya orang-orang budha ini memiliki rencana. Ketika si muslim sedang tidur baru mereka menjalankan rencananya. Si muslim itu dipegangin oleh 5 orang dan 1 orang menggorok leher si muslim tadi hingga putus, na'udzubillahi mindzalik. Setelah meninggal dengan kepala putus, dilemparlah jasad si muslim tadi ke laut. Lalu orang-orang ini laporan ke nahkoda bahwa dia terjebur kelaut karena mabuk kebanyakan minum. Suasana sangat mencekam bagi kami bertiga warga Indonesia yang muslim saat itu, kami takut kalo-kalo kami juga bakal dihabisi.
Allahu akbar, dengan kuasaNya bertepatan bulan romadhon, aku yang dulu tidak ingat ajaran agama, dengan kemuliaan bulan romadhon, akhirnya aku ingat untuk menjalankan ibadah puasa. Meski ditengah kerja kerasku yang tidak mengenal waktu dan di tengah-tengah orang-orang non muslim juga ditengah-tengah masalah yang terjadi waktu itu, aku sanggup menjalankan ibadah puasa. Aku bertekad kabur pulang kampung kalo saja mendarat di Batam. Tapi sungguh tidak disangka, yang tadinya seharusnya mendarat di Batam, ternyata kami kembali mendarat ke Thailand. Begitu selesai bongkar ternyata kami bertiga dibuang ke penampungan orang-orang buangan. Di sana banyak orang dari berbagai negara. Ada dari Vietnam, Goa, Panama, dan banyak lagi dari negara-negara miskin lainnya. Waktu itu kami bertiga tidak pegang duit sepeserpun. Untung ada pengusaha dari Vietnam yang baik hati, kami dikasih kerjaan, akhirnya kami bertiga kerja sebagai kuli bangunan dan duit yang kami peroleh dari upah kerja bangunan itu kami beliin pulsa untuk menelpon pihak dari PT yang di Indonesia. Akhirnya dari pihak PT mengutus orang kepercayaannya untuk menjemput kami dan membicarakan dengan pihak PT yang di Thailand. Alhamdulillah akhirnya kami berhasil diambil oleh pihak PT dari Indonesia. Kami begitu terkejut setelah melihat kapal yang dulu kami tumpangi itu. Ternyata sudah berganti nama juga berganti PT. Singkat cerita kami dianter ke Batam memakai kapal yang tadi yang sudah berganti nama itu. Dari Thailand ke Batam menghabiskan waktu 3 hari 3 malam perjalanan. Nyampe di Batam kami mencari bandara, karena menjelang lebaran maka harga tiket pesawat melambung tinggi, kami kebingungan karena hari sudah malam. Untung kami ketemu sama sopir mobil bok orang batak yang baik hati. Kami dibawa kerumahnya untuk menginap dan keesokan harinya kami jalan-jalan sambil mencari tiket kapal laut. Kami datangi tempat penjualan tiket kapal Pelni dan untung kami masih dapat yang pemberangkatan sore hari.
Sore itu juga kami bertiga pulang ke Jakarta. Dari Batam ke Jakarta ditempuh dalam waktu sehari semalam. Sampe Jakarta kami berpisah, temanku yang satu langsung pulang sementara saya dan teman yang satunya lagi maen ke Depok dulu untuk mengucapkan terima kasih atas tanggung jawabnya mengurus kami yang sempat dibuang. Kami menginap semalam di Depok baru setelah itu balik ke kampung halaman.
Mentang-mentang menjelang lebaran, harga tiket bus naik 4x lipat. Begitu nyampe rumah, orang tuaku dan tetanggaku pada samar, mereka pada tidak mengenali saya. Karena saya yang dulunya berkulit kuning langsat berubah jadi hitam banget dan juga rambutku yang gondrong karena tidak pernah potong rambut sejak berangkat dari rumah. Malam harinya aku maen ke rumah mertuaku untuk menanyakan hubunganku sama istriku. Dan jawabannya adalah istriku minta cerai. Karena berhubung suasana masih bulan romadhon akhirnya proses perceraianpun ditunda setelah hari raya. Setelah mendengar jawaban dari istriku, akupun pulang kembali ke rumah orang tuaku. Dan pagi harinya aku mengutus orang untuk memberikan duit untuk beli pakean baru kedua putriku. Hari raya pun tiba, kedua putriku maen kerumah ibuku untuk silaturahmi sekalian melepas kangen sama bapaknya.
Cuti masal sudah berlalu, pegawai negri sudah kembali kerja. Maka gugatan perceraianpun diajukan, saya menerima surat panggilan dari pihak pengadilan atas gugatan cerai yang diajukan oleh istriku. Tiba waktu sidang pertama saya lagi maen ke Indramayu sehinga saya tidak menghadiri proses persidangan. Dua minggu kemudian datanglah undangan sidang yang kedua kalinya. Saya mendapat saran dari aparat desa tepatnya pihak kaurkesra, katanya " kamu pengen cepat resmi tidak perceraian ini? Kalo pengen cepat, kamu tidak usah hadir lagi !" Akhirnya sayapun kembali tidak menghadiri proses persidangan, dan ternyata benar apa yang dikatakan oleh kaur kesra, hanya dengan 2x sidang, kami sudah resmi cerai.
Berhubung hari sudah menjelang pagi, maka cerita ini saya setop dulu ya teman. Biasa..biar kalian makin penasaran hehehe
O iya teman, tau gak kalian perbedaan penjualan ikan hasil tangkapan kami waktu kerja dilaut itu berapa banding berapa ? 10 ton banding 5.793 ton ! 10 ton masuk Indonesia 5.793 ton lari ke Thailand. bagaimana negara kita bisa kaya kalo dicuriin terus hasil kekayaannya oleh negara lain. Bisa kalian bayangkan dalam jangka waktu 8 bulan oleh 1 kapal saja sudah dicuri 5.793 ton ! Sedangkan kapal yang beroperasi di sana ratusan kapal ! Bisa kebayang tidak ? Gak tau deh saya sendiri tidak bisa membayangkan hehehe
Sudah ah nyrocos terus, bisa-bisa sampe pagi nanti

Tidak ada komentar:
Posting Komentar