Minggu, 07 Oktober 2012

Kabut Hitam Mulai Menghampiri I


Baiklah sob, kini akan aku lanjutkan lagi kisah perjalanan hidupku
Bedanya kalo yang pertama masa-masa kebersamaan
Bareng teman-teman, tapi yang ini awal dari
Keterpurukan yang menimpa diriku
Awal-awal aku membina rumah tangga bareng istriku yang juga teman remaja masjidku,
kehidupan kita begitu bahagia, harmonislah pokoknya. Hari-hariku dipenuhi senda gurau juga canda tawa.
Disaat kehamilan pertama istriku, aku rutin mengantarkan dia periksa ke bidan terdekat dari rumah
mertuaku ( hehe maklum aku tinggal di pondok mertua indah )
Singkat cerita tibalah saat kelahiran anak pertamaku, dari jam 9 malam perut istriku sudah
mulai mulas-mulas, dia tidak mau diam menahan rasa nyeri yang 
mendera-dera. Dia jalan ke belakang, balik
lagi ke depan.
Dan tak jarang juga dia loncat-loncat, bahkan pengen mukulin perutnya sendiri, untung aku selalu
mendampinginya sehingga aku selalu menahan tangannya yang hendak mengarah
ke perutnya. Karena ini pertama kalinya aku dihadapkan dengan
kejadian ini, jadi wajar donk...kalo aku sedikit gugup
bercampur panik tak tau apa yang harus
aku perbuat
Lalu
ada yang nyarani
" panggil bidan aja buruan " maka
aku pun langsung bergegas lari ke rumah ibu bidan.
 Aku gedor sekuat tenaga pintu rumah ibu bidan, yang sebenarnya c
ada tombol bel nya...(maklum sob...panik, panik...hehe)
Akirnya keluarlah sosok wanita muda dari balik pintu yang tadi aku gedor-gedor
Bidan : Ada apa ya ?
Aku : Bu tolong istriku bu
istriku di rumah mau nglairin
(dengan terbantah-bantah saking gugupnya)
Bidan : Tunggu sebentar ya aku ambil peralatan dulu
Baik bu aku tunggu
jangan lama-lama ya bu
jawabku dengan spontan sekenanya
Akhirnya aku bareng ibu bidan berjalan menyusuri gelapnya malamsambil mulutku tak henti-hentinya berkata " Bu cepetan bu...keburu istriku nglairin "
Begitu sampe rumah, ternyata rumahku sudah banyak orang. Lalu perlahan ibu bidan memeriksa keadaan istriku. Gimana bu kondisi kandungan istriku ? Ga papa...kondisinya baik-baik saja kok, ini masih lama...
kurang lebih sebulan / sebulan setengah lagi, ini hanya keglingsir saja jawab ibu bidan. Mending dipanggilin dukun bayi tradisional saja biar dibenerin posisi kandungannya (lanjut bu bidan)
Kemudian ibu bidanpun kembali kerumahnya dengan aku anterin pake motor karena aku sekalian mau ke rumah dukun bayi yang tinggalnya di desa sebelah. Tepat jam 12 malem aku nyampe di rumah dukun bayi yang dimaksud. Tak berapa lama kurang lebih 15 menitan keluarlah sang dukun bayi itu, lalu kuceritakan kronologis kejadiannya. Maka aq dengan sang dukun bayi itu meluncur secepatnya tanpa membawa peralatan praktek sang dukun.
Pas nyampe rumah keadaan rumah sudah agak sepian, mungkin karna keterangan yang diberikan oleh ibu bidan tadi kalee, jadi mereka sudah pada balik ke rumah masing-masing.
Begitu sang dukun mulai melaksanakan aksinya terkejutlah dia, buruan panggil lagi bidannya ! Orang sudah mau keluar ko dibilang keglingsir, tau begini kan aku bawa peralatan !
Sontak terkejutlah semua yang di situ, lalu aku buru-buru ke rumah ibu bidan lagi. ku penjet bel berulang-ulang tak kunjung keluar juga. Aku gedor-gedor pintu sambil teriak-terik manggil bu bidan...bu bidan...tak juga keluar. Aku pindah ke tiap jendela, juga tak keluar. Maklum suami ibu bidan yang sebagai polisi sedang dapat giliran jaga, jadi ibu bidan agak takut jangan-jangan rampok gitu pikirnya. Karena belum lama ini rumah ibu bidan sering kecolongan
Akhirnya aku balik ke rumah bermaksud ngajak ibu mertuaku, aku berpikiran siapa tau kalo yang panggil-panggil suara perempuan ibu bidan mau keluar. Dan benar saja begitu yang manggil ibu bidan suara perempuan, keluarlah ibu bidan dari balik pintu, lalu kita bertiga bergegas menuju rumah dimana istriku lagi mengerang kesakitan.
Sesampainya di rumah ternyata anakku sudah lahir. Ada rasa senang, ada rasa haru ada rasa nyesel dan juga rasa-rasa yang lain yang tak bisa aku sebutkan rasa apa itu, pokoknya segala rasa menjadi satu berbaur tak puguh. Senang karena anakku sudah lahir secara normal dan kondisinya sempurna, haru karena hilang sudah rasa panikku, nyesel karena aku tidak bisa menemani istriku berjuang antara hidup dan matinya orang-orang yang kucintai, yakni dia dengan anak yang ada dalam kandungannya.
Perlahan dukun bayipun menghampiri ibu bidan sambil menyerahkan bayi yang ada ditangannya. "Bu, ini sudah aku bersihin, tinggal potong tali pusarnya karena saya tidak membawa peralatan" kata  sang dukun. Lalu ibu bidan pun menerima bayi itu lalu berkata " iya trima kasih mak, nanti akan saya potong sekalian aku timbang beratnya dan ukur panjangnya.
Tanggal 26 Desember 2002 jam 00.45 anak pertamaku lahir dengan berat badan 3 kg panjang 50cm.
Setelah selesai memotong tali pusar serta menimbang dan mengukur bayi itu, ibu
bidan pun menyerahkan anakku kepadaku untuk diadzani.
 
Udah dulu ya sob ceritanya, capek ni...nulisnya
jangan lupa tunggu dan ikutin terus kisah-kisah perjalanan hidupku
Ok mas brow....hehe  
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar