Rabu, 10 Oktober 2012

Kabut Hitam Mulai Menyelimuti IV

Hai sob, masih setia kan menyimak kisah hidupku ? Aku harap demikian deh hehe
Tidak terasa deh kita sudah memasuki bagian ke 4, simak terus ya sob ! Awal cerita

Bagai badai praha melanda hidupku saat aku diusir oleh istriku sendiri. Istri yang sangat aku sayangi bahkan melebihi sayangku pada diriku sendiri. Hari-hariku sepi, hatiku kosong bagai rumah yang ditinggal penghuninya, sunyi sepi menyelimuti hidupku. Aku kehilangan pegangan, melayang tak tentu arah bagai layang-layang putus benangnya.
Aku jarang pulang, kerjaanku hura-hura terus sama teman-teman kerjaku. Aku mulai meninggalkan kewajibanku, kewajiban seorang muslim.
Ibu ku sering nasehatin " yang sabar nak...kamu lagi diuji, tidak seharusnya kamu begini. Semestinya kamu lebih prihatin, kumpulin hasil kerjamu. Kalo kamu banyak duit pasti istrimu juga senang dan mau menerima kamu kembali. Kalo pun dia tetap tidak menerima kamu, setidaknya kamu punya uang kalo-kalo istrimu minta cerai. Tapi mudah-mudahan c jangan sampe terjadi".
Nasehat orang tuaku bagai angin lalu yang tak perna aku angep  karna aku benar-benar merasa kehilangan 3/4 nyawaku bukan hanya 1/2 lho tapi 3/4. Hancur benar-benar hancur aku waktu itu hanya kopi dan rokok yang jadi teman sepiku. Hanya alunan lagu yang mampu mengisi kekosongan hatiku.
Sebulan dua bulan aku masih sedikit mampu menguasai emosiku tapi lama kelamaan egoku timbul juga, sempat aku berpikir " baiklah kalo emang maumu begini, emangnya aku tidak mampu apa mencari penggantimu?"
Akhirnya aku berusaha mencari pelampiasan, kebeneran sudah lama teman kerjaku ada yang suka sama aku. Di tempat kerja kita selalu memadu kasih, dan tiap malam minggu pun aku selalu kencan ke rumahnya walo pun aku harus sewa kendaraan untuk bisa ngapel ( maklum...aku tidak punya kendaraan sendiri ). Sampai suatu saat bertepatan dengan hari ulang taun pernikahan aku sama istriku, aku lagi jalan sama pacarku itu hingga larut malam di sebuah tempat yang sepi. Hampir saja aku melakukan perbuatan yang melampaui batas. Ketika tinggal selangkah lagi aku mencapai puncak dari keterlenaanku, tiba-tiba muncul bayangan ke 2 putriku juga wajah istriku. Dan aku pun buru-buru menghentikan perbuatanku. Aku lalu sadarkan pacarku, jangan dek, tidak selayaknya kita melakukan ini. Aku tidak mau merusakmu, aku tidak mau menghancurkan masa depanmu. Kamu musti ingat, aku ini masih suami orang. Lalu pacarku pun merapikan dirinya walau dengan muka kecewa.
Singkat cerita hampir setaun aku pisah ranjang dengan istriku, dan sebentar lagi bulan romadhon. Aku yang biasanya jadi bilal di masjid pada saat sholat tarawih, untuk kali ini aku mangkir dari masjid. Sholat tarawihku bisa dihitung dengan hitungan jari, aku benar-benar berubah 180 drajat. Pas pada saat pembagian THR aku mencoba menghubungi istriku, aku tanya, untuk beli pakean lebarannya anak-anak gimana, mau mentahnya aja apa kita beli bareng-bareng ? Akhirnya istriku menjawab kita beli bareng-bareng saja. Maka ketika sore harinya selepas aku pulang kerja, aku jalan bareng berempat, aku, istriku dan kedua anakku.
Dengan adanya momen ini aku mencoba mimbicarakan masalah yang sedang kita hadapi, yang akhirnya istriku meminta maaf telah mengusir diriku, begitu juga dengan aku, aku meminta maaf atas kelemahanku yang tidak mampu mencukupi kebutuhan rumah tangga kami. Habis belanja pakaian kedua anakku dan juga istriku, kita lanjut jalan-jalan untuk berbuka puasa bareng. Dan malamnya istriku menginap di rumah orang tuaku. Maka sejak saat itu keluargaku kembali rukun, pacarku yang di tempat kerja aku putuskan. Ntah karena alasan apa akhirnya pacarku itu keluar dari tempat kerjanya.
9 bulan telah berlalu, tiba musim kemarau. Ayah mertuaku ditawarin nanam timun suri, padahal keluarga kami sebelumnya tidak mengerti sama sekali tentang bagaimana cara bertani timun suri. Berhubung ada yang mau mengajari maka ayah mertuaku mengajak aku untuk mencoba bertani timun suri, aku pun ngikut saja. Tidak tanggung-tanggung, baru pertama kali belajar ayah mertuaku mencoba langsung di 3 tempat. Karena kewalahan, akhirnya 1 tempat yang diperkirakan tidak menguntungkan dibiarkan begitu saja alias ditelantarkan. Tiap pulang kerja aku langsung ke sawah, padahal teman-teman perlu ketahui, jarak dari tempatku kerja sampe ke sawah itu, memakan waktu hampir 1 jam perjalanan naik sepeda ontel. Maklum... aku punyanya cuma sepeda ontel. Dari jam 5 sampe minimal jam 7 bahkan tidak jarang sampe larut malam aku ngerjain kerjaan sawah. Sampe nglupai kewajibanku pada sang Kholik. Begitu terus hari-hari yang kulalui hingga menjelang panen. Tapi sebelum tiba masa panen, aku dibuat jengkel oleh istriku, akhirnya pada waktu panen tiba aku tidak ikut membantu. Dan semenjak kejadian itu hilang semua jerih paya ku yang tiap hari aku lalui semenjak masa tanam sampe masa buah. Aku didiamin oleh seluruh keluarga istriku, bahkan istriku sendiri tidurnya misah kamer selama 3 bulan yang memancing emosiku. Akhirnya aku menggebrak seluruh keluarga itu, aku beradu mulut sama istriku tengah malam yang memaksa ibu mertuaku ikutan ngomong. Akhirnya aku berhenti lalu aku masuk kamar tapi tidak bisa kupejamkan kedua mataku ini. Rasanya aku tidak sabar menanti datangnya sang fajar. Aku ingin ngomong sama ayah mertuaku yang pada saat itu tidak ada di rumah karena sedang tugas mengairi sawah warganya. Maklum ayah mertuaku itu menjabat sebagai raksa bumi di kampungnya. Begitu ayah mertuaku datang belum sempat aku ngomong eh... ditinggal tidur, kepaksa deh nungguin lagi. Begitu bangun aku langsung ngomong pamit pengen pulang ke rumahku dari pada aku tinggal di situ tapi aku dikucilkan.
Kejadian taun yang lalu terulang lagi, aku kehilangan pegangan juga kehilangan 3/4 nyawaku.
Bersambung lagi ya sob ceritanya, biar kalian makin penasaran hehe   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar